Tuesday, February 10, 2009

saya yang sok tau dan sopir bajaj

Hari ini saya terlambat bangun, dan akhirnya harus naik bajaj ke kantor. Biasanya saya naik bis, trus naik mikrolet. Saya berharap, dengan naik bajaj, saya bisa tiba lebih cepat ke kantor. Tapi ternyata, sopir bajaj-nya melewati rute yang saya ga suka. Dia lewat jalan-jalan kecil yang banyak dilewati mikrolet. Jalanannya biasanya lebih macet karena lebih kecil, juga karena mikroletnya suka berhenti di sembarang tempat. Karena si abang bajaj udah terlanjur masuk jalan kecil, saya ga bisa apa-apa lagi. Cuma bisa berdoa supaya jalanannya ga macet-macet banget. Si abang terus mengendarai bajaj-nya. Dengan cemas saya memandang jalan. Ternyata....jalannya ga acet sama sekali. Entah kenapa, lagi ga banyak mikrolet di sana, ga ada mikrolet yang berhenti di sembarang tempat juga. Akhirnya saya bisa tiba di kantor tanpa terlambat.

Kejadian tadi pagi membuat saya merasa sok tau, hehe. Tapi sekaligus juga mengingatkan saya akan perjalanan hidup saya bersama Tuhan. Seringkali Tuhan memaksa saya untuk melewati jalan yang saya ga suka, yang saya pikir akan menyusahkan saya. Jalan yang akhirnya tetap harus saya lewati walau dengan mengeluh, cemas, dan perasaan negatif lainnya. Saya merasa bahwa Tuhan ga bisa mengerti apa yang saya rasakan. Padahal saya salah, Tuhan terlalu hebat untuk dapat saya pahami. Rencana Dia tidak dapat saya selami. Saya hanya bisa mengeluh tanpa mengetahui bagaimana akhir dari perjalanan hidup saya. Padahal, seperti sopir bajaj tadi, Tuhan pasti udah lebih tau apa yang terbaik buat saya. Jadi saya hanya perlu mengikuti aturan mainnya Tuhan sampe nyampe garis finish nanti.

Tuesday, December 23, 2008

pembicaraan selama makan siang

Kemarin, ketika makan siang dengan beberapa teman kantor, kami membahas tentang suasana natal yang kemudian berlanjut menjadi pembicaraan mengenai ajaran agama. Kami bicara bertujuh. Saya dan seorang teman beragama Kristen, 2 orang laiinnya beragama Islam, dan 3 selebihnya beragama Katholik. Diawali dengan masing-masing dari kami yang membahsa dekorasi Natal di mall-mall di Jakarta. Teman saya yang Muslim bertanya, kenapa harus identik dengan salju, kenapa Natal harus selalu tampak mewah (dia terpengaruh film Home Alone, hehe), dan siapa itu Santa Clauss? Pertanyaan-pertanyaan ini dicoba dijawab oleh saya dan teman saya yang beragama Kristen. Kami menjelaskan bahwa itu hanya tradisi dari negara Barat, bahwa bukan itu makna Natal yang sesungguhnya. Kami menjelaskan bahwa kami merayakan kelahiran Tuhan Yesus yang kemudian menjadi juru selamat. Ternyata, teman saya yang Muslim itu udah tau kisah tentang Tuhan Yesus. Dia tanya, menurut pengajaran Kristen, Yesus itu Tuhan juga bukan. Kembali kami jawab bahwa Yesus itu Tuhan yang turun ke dunia dan menjadi manusia supaya Dia bisa lebih tergapai oleh manusia (intinya gitu deh, waktu itu panjang ngejelasinnya). Dia tanya lagi, jadi sebenernya ada 2 sosok Tuhan atau gimana? Selama dia jadi manusia, yang ambil alih sebagai Tuhan itu siapa? Jeng…jeng…pertanyaan yang sulit kami jawab, karena berhubungan dengan konsep Tritunggal.

Sebenarnya, teman saya yang Muslim ini udah tau cukup banyak tentang Yesus, makanya dia bisa tanya macem-macem. Dia bahkan bisa bilang Yesus itu anak Allah. Saya jadi makin sadar, ternyata sebegitu terkenalnya Tuhan Yesus. Jadi merasa makin sulit karena saya harus menjadi representasi Tuhan di dunia. Orang-orang di luar sana mengenal saya sebagai orang Kristen. Mereka tau agama Kristen identik dengan Tuhan Yesus, mempercayai Yesus sebagai jalan keselamatan, artinya, menjadikan Yesus sebagai teladan hidup. Jadi, ketika saya berbuat salah, nama Tuhan juga yang jelek.

Bagi beberapa orang, mungkin hal ini ga terlalu masalah, cukup dengan tidak berbuat jahat. Tapi ga bisa seperti itu. Ketika kita tidak melakukan apapun, kita juga salah, kita ga bisa jadi berkat bagi orang lain. Kita ga bisa jadi orang Kristen yang pasif. Cuma dengan aktif memancarkan kasih Tuhan maka nama Tuhan bisa dimuliakan.

Pembicaraan kami kemarin juga mengingatkan saya, saya belum sungguh-sungguh merenungi makna Natal bagi saya tahun ini, belum tahu, hadiah ulang tahun apa yang ingin saya berikan untuk Yesus? Guys, ketika Natal sudah semakin dekat, semakin tampak menyenangkan, tampak meriah, tampak hangat, sungguhkan hati kita siap? Jangan sampai perayaan Natal dengan berbagai kemewahannya justru hanya menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekitar kita. Jangan sampai kita justru membuat Yesus sedih di hari ulang tahunNya. Siapkah kita menjadi representasi Dia yang begitu terkenal itu? Siapkah kita memperlihatkan iman kita bukan hanya melalui status “agama”, tapi juga melalui seluruh langkah kita?

Selamat Natal yah…
You’ve been blessed, so, be a blessing for others.
Pay His love forward.

Thursday, November 27, 2008

jelmaan Dewi Durga

Kemarin saya membaca artikel mengenai seorang bayi yang lahir dengan 2 wajah. Bukan kembar siam. Seluruh organ dalamnya hanya ada 1. Tapi bayi ini mempunyai 4 mata, 2 hidung, dan 2 mulut. Telinganya juga hanya ada 2. Wajahnya saling menempel bersebelahan. Kalau mau tau persisnya, kalian bisa lihat di jawaban.com, di kolom kesehatan. Bayi ini terlahir dari keluarga petani miskin di suatu desa di India. Menurut dokter, seluruh organ tubuh si bayi berfungsi normal, ga ada masalah apa-apa. Tapi saya tetap prihatin ketika melihat foto bayi ini. Dia sih ga tampak kesakitan. Tapi membayangkan kalau saya harus hidup dengan 4 mata, 2 hidung, dan 2 mulut, bagaimana lingkungan akan memandang saya? Bagaimana bisa saya tampak menarik di hadapan pria-pria?

Tapi ternyata, oleh warga desa, si bayi sangat dipuja-puja. Dengan bentuk fisik yang seperti itu, dia dianggap sebagai jelamaan Dewi Durga. Orangtua si bayi juga tidak menganggap keadaan anaknya sebagai masalah. Setiap hari rumah si bayi dipenuhi warga yang datang untuk menyentuh kakinya sebagai bentuk penghormatan. Mereka juga memberi sumbangan untuk keluarga si bayi.

Seringkali, apa yang kita anggap sebagai hal buruk, justru merupakan hal baik bagi orang lain. Membaca berita ini, saya mencoba menyelami, bagaimana perasaan orangtua si bayi. Bagaimana bisa orangtua tenang-tenang saja melihat keadaan anaknya berbeda dari anak-anak lainnya? Tapi kemudian saya berpikir, yang menganggap anaknya itu berbeda kan lingkungan. Orangtuanya memilih untuk tidak menganggap anaknya berbeda, malah menganggap anaknya sebagai anugerah. Jadi, semuanya balik lagi kepada cara kita memandang suatu keadaaan. Keadaan seburuk apapun, kalau kita lihat secara positif, bisa memberikan dampak positif dalam hidup kita. Lagipula, ga ada kejadian yang terjadi secara kebetulan kan? Bayi tadi hanya 1 dari banyak anak yang terlahir dengan fisik yang tidak umum. Seringkali saya melihat mereka bisa berkarya secara luar biasa dalam hidup mereka. Tuhan menciptakan kita bukan tanpa tujuan. Jadi, kalau kita mau mengarahkan fokus hidup kita ke Tuhan, kita akan tahu bahwa Tuhan menciptakan kita secara sempurna, dengan tujuan mulia. Kalau sudah menyadari hal itu, kita akan sadar, betapa berharga kita di mata Dia. Kemudian, kita akan menjadi penuh sukacita dan memandang hidup dengan lebih positif. Kita ga akan punya waktu untuk mengasihani diri sendiri karena waktu kita habis untuk bersyukur. Dengan pandangan positif terhadap hidup, hidup juga akan menjadi lebih produktif. Akhirnya, kita akan bisa mengaktualisasikan diri kita secara optimal dan menjadi berkat bagi orang lain. Asyik kan? Hehehe.